Altar Baru Mitra Uttama

October 18th, 2007 by metta-me

Frends….Mitra Uttama Sudah punya altar baru lho…sebagai koordinatornya, saya minta maaf atas keterlambatan pembangunan altar dan perluasan Dharma Sala yang baru…

tertanggal 22 September 2007, telah berdiri altar yang baru di Dharma sala Mitra Uttama, Jl. Siwalankerto permai Gg. 4 blok L-5

Dana yang telah diterima untuk pembuatan altar MU s/d 18 Oktober 2007 sejumlah Rp. 8.550.000,-

ada pun rincian pegeluaran pembuatan altar baru:

Perluasan Dharma Sala                                  Rp. 1.200.000,-

Pembuatan Altar dan bantal                           Rp. 4.000.000,-

Pembuatan lampu                                         Rp.    800.000,-

                                                             ————————- +

              Total                                             Rp. 6.000.000,-

Anumodana atas dana yang telah diberikan… semoga jasa kebaikan yang telah dilakukan, dapat berbuah kebahagiaan kepada Anda dan keluarga….

Sadhu Sadhu Sadhu

Mengasah Kapak

February 7th, 2007 by metta-me

Taken from [samaggiphala] FW: MENGASAH KAPAK

<liana_sstc@yahoo.com>

Alkisah ada seorang penebang pohon yang sangat kuat. Dia melamar pekerjaan pada seorang pedagang kayu, dan dia mendapatkannya. Gaji dan kondisi kerja yang diterimanya sangat baik. Karenanya sang penebang pohon memutuskan untuk bekerja sebaik mungkin.

Sang majikan memberikan sebuah kapak dan menunjukkan area kerjanya. Hari pertama sang penebang pohon berhasil merobohkan 18 batang pohon. Sang majikan sangat terkesan dan berkata, "Bagus, bekerjalah seperti itu!"

Sangat termotivasi oleh pujian majikannya, keesokan hari sang penebang pohon bekerja lebih keras lagi, tetapi dia hanya berhasil merobohkan 15 batang pohon. Hari ketiga dia bekerja lebih keras lagi, tetapi hanya berhasil merobohkan 10 batang pohon. Hari-hari berikutnya pohon yang berhasil dirobohkannya makin sedikit. "Aku mungkin telah kehilangan kekuatanku", pikir penebang pohon itu.

Dia menemui majikannya dan meminta maaf, sambil mengatakan tidak mengerti apa yang terjadi. "Kapan saat terakhir kau mengasah kapak?" sang majikan bertanya.

"Mengasah? Saya tidak punya waktu untuk mengasah kapak. Saya sangat sibuk mengapak pohon," katanya.

Catatan:
Kehidupan kita sama seperti itu. Seringkali kita sangat sibuk sehingga tidak lagi mempunyai waktu untuk mengasah kapak. "Di masa sekarang ini, banyak orang lebih sibuk dari sebelumnya, tetapi mereka lebih tidak berbahagia dari sebelumnya. Mengapa? Mungkinkah kita telah lupa bagaimana caranya untuk tetap tajam?

Tidaklah salah dengan aktivitas dan kerja keras. Tetapi tidaklah seharusnya kita sedemikian sibuknya sehingga mengabaikan hal-hal yang sebenarnya sangat penting dalam hidup, seperti kehidupan pribadi, menyediakan waktu untuk membaca, dan lain sebagainya.

Kita semua membutuhkan waktu untuk tenang, untuk berpikir dan merenung, untuk belajar dan bertumbuh. Bila kita tidak mempunyai waktu untuk mengasah kapak, kita akan tumpul dan kehilangan efektifitas. Jadi mulailah dari sekarang, memikirkan cara bekerja lebih efektif dan menambahkan banyak nilai ke dalamnya.
Kegagalan tidak sama artinya dengan kekalahan, karena kekalahan adalah saat Anda tidak mampu bangkit dari kegagalan
Lihat artikel motivasi lainnya hanya di :
http://beranigagal. blogspot. com

Menjadi pemenang

February 7th, 2007 by metta-me

Artikel bagus nih…To be the Winner….

From: professional_ entrepreneur_ club@yahoogroups .com
[mailto:professional_ entrepreneur_ club@yahoogroups .com] On Behalf Of Ryan
Sent: Tuesday, December 26, 2006 6:14 AM
To: professional_ entrepreneur_ club@yahoogroups .com
Subject: [PROFEC] Menjadi Pemenang

Martin Luther King Jr. berkata, "Jadilah tukang sapu jalanan layaknya
Michael Angelo melukis atau Shakespeare menulis puisi, sehingga segenap
penghuni bumi akan tertegun lalu berujar, Wahai inilah tukang sapu jalan
yang melakukan tugasnya dengan baik." Bekerja dengan baik, itulah yang
ditempuh banyak orang untuk memetik keberhasilan. Kemmons mencium kebutuhan
pelancong akan motel sederhana tapi bersih, Ia pun mendirikan Holiday Inns.

Sam Walton bercita-cita membangun jaringan toko kelontong dengan harga murah
dan pelayanan ramah, hasilnya Wal-Mart jaringan pasar swalayan terbesar di
AS.

Menjadi orang sukses tak perlu menunggu punya gelar, mulailah sekarang juga.

Pilih hal yang sederhana baru kemudian mengembangkannya. Misalnya, adakah
yang lebih sederhana dari menjawab telepon? Tapi berapa orang yang bisa
melakukannya dengan baik? Saya harus mewawancarai puluhan pelamar sebelum
menemukan seorang resepsionis yang mampu menjawab dan berbicara melalui
telepon dengan baik.

Bersungguh-sungguhl ah melakukan apapun, entah itu berkebun, berbenah rumah,
mencuci, memasak, dll. Bila ada pelayan hotel terbaik di dunia, yang
membersihkan kamar hotel sebagai kerja seni; atau juru masak yang
mengesankan tamu dgn hidangan sederhana tapi disiapkan dgn lezatnya; atau
pramuniaga yang melayani pelanggan seperti melayani orang terpenting di
dunia, Saya yakin orang akan berebut mempekerjakan dan membayar mereka dgn
gaji tinggi.

Pelajari minat, bakat, dan kemampuan anda. Peluang tidak pernah berujung.

Banyak orang yg tidak kreatif dgn kemampuannya sendiri. Mereka malah
mengharapkan kemampuan yg tidak dimiliki, sementara kemampuan sendiri tidak
dimanfaatkan. Ini ibarat orang pendek kecil menghampiri kawannya yg tinggi
besar, lalu berkata : "Kalau badanku sebesar kamu, akan kurambah gunung,
kutangkap beruang terbesar, lalu kurobek-robek badannya." Si besar menatap
si kecil sambil tersenyum, "Beruang kecil kan juga banyak di hutan!"

Renungkanlah itu. Anda pernah mengeluh karena tidak mampu mengatasi beruang
besar, sementara beruang-beruang kecil yg bisa anda atasi menari-nari di
sekitar anda? Kita mesti mau memanfaatkan apa yg kita punyai, di mana kita
berada, dan mengambil yg terbaik dari situ. Rahasia yg mengubah orang
menjadi pemenang: lakukan hal yg biasa dgn cara yg luar biasa.

Juga harap diingat:

Pemenang selalu mencari jalan untuk menang, sementara pecundang mencari
dalih jikalau kalah.

Lihat artikel motivasi lainnya hanya di :

http://beranigagal. blogspot. com

Regards,

Rian Rahardi

Sigalovada Sutta - kita termasuk yang mana???

February 7th, 2007 by metta-me

Taken from [samaggiphala] FW: SIGALOVADA SUTTA - how to be..


SIGALOVADA SUTTA (31)

Sumber : Sutta Pitaka Digha Nikaya

Oleh : Penterjemah Kitab Suci Agama Buddha

Penerbit : Badan Penerbit Ariya Surya Chandra, 1991

Demikian yang telah kami dengar :

Pada suatu ketika Sang Bhagava sedang berdiam di Rajagaha, di Vihara
Hutan Bambu di Kalandakanivapa (Tempat Pemeliharaan Tupai). Pada waktu
itu, Sigala Putra kepala keluarga, bangun pagi-pagi sekali dan pergi
meninggalkan Rajagaha; dengan rambut dan pakaian basah dan sambil
beranjali, ia menyembah ke berbagai arah, yaitu arah timur, selatan,
barat, utara, bawah dan atas.

Dan Sang Bhagava pada pagi hari itu, setelah mengenakan jubah serta
membawa mangkuk-Nya, pergi ke Rajagaha untuk mengumpulkan dana makanan
(pindapata).

Kemudian Sang Bhagava melihat Sigala putra kepala keluarga, bangun
pagi-pagi sekali dan pergi meninggalkan Rajagaha; dengan rambut dan
pakaian basah dan sambil beranjali, ia menyembah ke berbagai arah, yaitu
arah timur, selatan, barat, utara, bawah dan atas. Dan Sang Bhagava
bertanya kepada Sigala putra kepala keluarga itu demikian :

"O putra kepala keluarga, mengapa engkau bangun pagi-pagi sekali dan
pergi meninggalkan Rajagaha; dengan rambut dan pakaian basah dan sambil
beranjali, engkau menyembah ke berbagai arah, yaitu arah timur, selatan,
barat, utara, bawah dan atas?"

"Bhante, ketika ayahku mendekati ajal, beliau berkata kepadaku untuk
menyembah ke berbagai arah. Demikianlah, Bhante, karena menghormati,
mengindahkan, menjunjung dan menganggap suci kata-kata ayahku itu, maka
aku bangun pagi-pagi sekali dan pergi meninggalkan Rajagaha. Dengan
rambut dan pakaian basah dan sambil beranjali, aku menyembah ke berbagai
arah, yaitu arah timur, selatan, barat, utara, bawah dan atas."

"Tetapi, O putra kepala keluarga, dalam agama seorang Ariya enam arah
itu tidak seharusnya disembah dengan cara demikian."

"Bhante, bagaimana enam arah itu seharusnya disembah dalam agama seorang
Ariya? Bhante, alangkah baiknya apabila Sang Bhagava berkenan
mengajarkan ajaran yang menguraikan caranya enam arah itu harus disembah
dalam agama seorang Ariya."

"O putra kepala keluarga, dengarkan dan perhatikan baik-baik
kata-kata-Ku, dan Aku akan berbicara."

"Baiklah, Bhante," jawab Sigala putra kepala keluarga itu kepada Sang
Bhagava. Dan kemudian Sang Bhagava berkata:

"O putra kepala keluarga, karena siswa Ariya telah menyingkirkan empat
kekotoran tingkah laku (kammakilesa) , karena ia tidak melakukan
perbuatan-perbuatan jahat (papakamma) yang didasari oleh empat dorongan,
karena ia tidak mengejar enam saluran yang memboroskan kekayaan maka
dengan menjauhi (na sevati) empat belas hal buruk ini, ia adalah seorang
pengayom enam arah itu, seorang penakluk (vijaya), yaitu ia akan
sejahtera dalam alam ini dan alam berikutnya. Pada saat kehancuran
tubuhnya, setelah mati, ia akan terlahir kembali dalam alam bahagia,
alam surga.

Apakah empat kekotoran tingkah laku yang telah ia singkirkan itu? O
putra kepala keluarga, itulah kekotoran tingkah laku membunuh mahluk
hidup, mengambil apa yang tidak diberikan, berzinah dan berbohong.
Inilah empat kekotoran tingkah laku yang telah ia singkirkan. Demikian
sabda Sang Bhagava.

Dan setelah Sang Sugata berkata demikian, Sang Guru (sattha) berkata
lebih lanjut : " Membunuh mahluk hidup, mencuri, berbohong, berzinah,
Untuk perbuatan-perbuatan ini, para bijaksana tidak memuji."

"Apakah empat dorongan yang mendasari perbuatan perbuatan jahat yang
tidak ia lakukan itu? Perbuatan-perbuatan jahat yang dilakukan atas
dorongan rasa senang sepihak (chanda gati), perbuatan-perbuatan jahat
yang dilakukan atas dorongan kebencian (dosa gati), perbuatan-perbuatan
jahat yang dilakukan atas dorongan ketidaktahuan (moha gati) dan
perbuatan-perbuatan jahat yang dilakukan atas dorongan rasa takut (bhaya
gati). Tetapi, O putra kepala keluarga, karena siswa Ariya tidak
terseret oleh dorongan rasa senang sepihak, tidak terseret oleh dorongan
kebencian, tidak terseret oleh dorongan ketidaktahuan dan tidak terseret
oleh dorongan rasa takut, maka ia tidak melakukan perbuatan-perbuatan
jahat karena empat dorongan ini. Demikian sabda Sang Bhagava.

Dan setelah Sang Sugata berkata demikian, Sang Guru (sattha) berkata
lebih lanjut :

"Siapa pun yang karena rasa senang sepihak atau kebencian,

Atau ketidaktahuan atau ketakutan telah melanggar Dhamma,

Maka nama baik dan kemasyhurannya akan menjadi pudar

Bagaikan bulan yang susut pada masa bulan-gelap.

"Siapa pun yang karena rasa senang sepihak atau kebencian

Atau ketidaktahuan atau ketakutan tidak pernah melanggar Dhamma,

Maka nama baik dan kemasyhurannya menjadi sempurna dan penuh

Bagaikan bulan purnama pada masa bulan-terang. "

"Dan apakah enam saluran yang memboroskan kekayaan itu? O putra kepala
keluarga, gemar minum-minuman yang memabukkan, sering berkeliaran di
jalan jalan pada saat yang tidak pantas, mengejar tempat-tempat hiburan,
gemar berjudi, bergaul dengan teman-teman jahat dan kebiasaan menganggur
(malas) adalah enam saluran yang memboroskan kekayaan."

"O putra kepala keluarga, terdapat enam bahaya (adinava) akibat gemar
minum minuman yang memabukkan (surameraya majjapamadatthananu yoga),
yaitu : kerugian harta secara nyata, bertambahnya pertengkaran, tubuh
mudah terserang penyakit, kehilangan sifat yang baik, terlihat tidak
sopan, kecerdasan menjadi lemah. Inilah, O putra kepala keluarga, enam
bahaya akibat gemar minum minuman yang memabukkan."

"O putra kepala keluarga, terdapat enam bahaya akibat sering berkeliaran
di jalan jalan pada saat yang tidak pantas (vikala visikhacariyanuyoga
), yaitu : dirinya sendiri tidak terjaga (agutta) dan tidak terlindung
(arakkhita), anak istrinya tidak terjaga dan tidak terlindung, harta
kekayaannya tidak terjaga dan terlindung, juga ia dapat dituduh sebagai
pelaku kejahatan-kejahatan (yang belum terbukti), menjadi sasaran
desas-desus palsu, ia akan menjumpai banyak kesulitan. Inilah, O putra
kepala keluarga, enam bahaya akibat sering berkeliaran di jalan-jalan
pada saat yang tidak pantas."

"O putra kepala keluarga, terdapat enam bahaya akibat mengejar
tempat-tempat hiburan (samajjabhicarane) : (Ia selalu berpikir) di
manakah ada tari-tarian? Di manakah ada nyanyi-nyanyian? Di manakah ada
pertunjukan musik? Di manakah ada pembacaan deklamasi? Di manakah ada
permainan tambur? Di manakah ada permainan genderang? Inilah, O putra
kepala keluarga, enam bahaya akibat mengejar tempat-tempat hiburan."

"O putra kepala keluarga, terdapat enam bahaya akibat gemar berjudi :
bila menang, ia memperoleh kebencian; bila kalah, ia meratapi harta
kekayaannya yang telah hilang; kerugian harta benda secara nyata; di
pengadilan kata-katanya tidak berharga; ia dipandang rendah oleh
sahabat-sahabat dan pejabat-pejabat pemerintah; ia tidak disukai oleh
orang-orang yang akan mencari atau mengambil menantu, karena mereka akan
berkata bahwa seorang penjudi tidak dapat memelihara seorang istri.
Inilah, O putra kepala keluarga, enam bahaya akibat gemar berjudi."

"O putra kepala keluarga, terdapat enam bahaya akibat bergaul dengan
teman-teman jahat (papamitta) : setiap penjudi, setiap orang yang gemar
berfoya-foya, setiap pemabuk, setiap penipu, setiap pengecoh, setiap
orang yang kejam adalah teman dan sahabatnya. Inilah, O putra kepala
keluarga, enam bahaya akibat bergaul dengan teman-teman jahat."

"O putra kepala keluarga, terdapat enam bahaya akibat kebiasaan
menganggur (malas) : ia berkata : "terlalu dingin", dan ia tidak
bekerja; ia berkata: "terlalu panas", dan ia tidak bekerja; ia berkata:
"terlalu pagi", dan ia tidak bekerja; ia berkata: "terlalu siang", dan
ia tidak bekerja; ia berkata: "aku terlalu lapar", dan ia tidak bekerja;
ia berkata: "aku terlalu kenyang", dan ia tidak bekerja.

Dengan demikian semua yang harus ia kerjakan tetap tidak dikerjakan,
harta kekayaan baru tidak ia peroleh, dan harta kekayaan yang sudah ia
miliki menjadi habis. Demikian sabda Sang Bhagava.

Dan setelah Sang Sugata berkata demikian, Sang Guru (sattha) berkata
lebih lanjut:

Beberapa teman hanyalah kawan minum;

Beberapa teman adalah mereka yang di hadapanmu akan berkata :

Sahabat baik! Sahabat baik!

Tetapi seseorang yang menyatakan kawan pada saat engkau membutuhkan,

Maka dia sesungguhnya yang layak disebut kawan olehmu.

Tidur sewaktu matahari telah terbit, perzinahan,

Terlibat dalam pertengkaran dan berbuat merugikan,

Bersahabat dengan orang-orang jahat dan berhati kejam :

Inilah enam sebab yang menjadikan keruntuhan seseorang.

Ia yang berteman dan bersahabat dengan orang-orang jahat

Ia yang dalam hidupnya melakukan hal-hal buruk, maka

Baik di alam ini maupun di alam berikutnya

Orang itu akan mengalami keruntuhan yang menyedihkan.

Berjudi dan wanita, minuman keras, tari-tarian dan nyanyian

Tidur pada siang hari dan berkeliaran pada malam hari.

Bersahabat dengan orang-orang jahat, berhati kejam :

Inilah enam sebab yang menjadikan keruntuhan seseorang.

Bermain dadu, minum-minuman keras, ia pergi kepada

Wanita-wanita yang amat dicintai laki-laki lain,

Mengikuti yang berpikiran rendah, bukan yang berpikiran mulia,

Maka ia akan menjadi suram bagai bulan yang menyusut pada masa
bulan-gelap.

Pecandu minuman keras, miskin, melarat,

Seorang yang haus sewaktu minum, pengejar kedai minuman,

Demikian ia tenggelam dalam hutang-hutang, bagai batu dalam air;

Cepat sekali ia membawa nista pada keluarganya.

Ia yang mempunyai kebiasaan tidur pada waktu siang,

Yang menganggap malam sebagai waktu untuk berjaga,

Ia yang selalu tidak bertanggung jawab, dipenuhi dengan anggur,

Ia yang tidak cakap untuk membina rumah tangga.

Terlalu dingin! Terlalu panas! Terlalu siang! demikian keluhannya,

Dengan cara begitu orang malas menghindari pekerjaan yang menanti,

Sehingga kesempatan baik akan berlalu.

Tetapi ia yang menganggap dingin dan panas sebagai hal yang remeh

Dengan cara apa pun ia tidak akan kehilangan kebahagiaannya.

"O putra kepala keluarga, terdapat empat macam orang yang harus dianggap
sebagai musuh yang berpura-pura menjadi sahabat (amittamittapatirup aka)
: Yaitu orang yang tamak (annadatthuharo) ; orang yang banyak bicara
tetapi tidak berbuat suatu apa (vaci paramo); penjilat (annuppiyabhani)
; kawan pemboros (apayasahayo) .

Atas empat dasar, O putra kepala keluarga, orang yang tamak harus
dianggap sebagai musuh yang berpura-pura menjadi sahabat : ia tamak; ia
memberi sedikit dan meminta banyak; ia melakukan kewajibannya karena
takut; ia hanya ingat akan kepentingannya sendiri. O putra kepala
keluarga, atas empat dasar inilah orang yang tamak harus dianggap
sebagai musuh yang berpura-pura menjadi sahabat.

Atas empat dasar, O putra kepala keluarga, orang yang banyak bicara
tetapi tidak berbuat suatu apa harus dianggap sebagai musuh yang
berpura-pura menjadi sahabat: ia menyatakan persahabatan berkenaan
dengan hal-hal yang lampau; ia menyatakan persahabatan berkenaan dengan
hal-hal mendatang; ia berusaha untuk mendapatkan simpati dengan
kata-kata kosong; bila ada kesempatan untuk membantu ia menyatakan tidak
sanggup. O putra kepala keluarga; atas empat dasar inilah orang yang
banyak bicara tetapi tidak berbuat suatu apa harus dianggap sebagai
musuh yang berpura-pura menjadi sahabat.

Atas empat dasar, O putra kepala keluarga, seorang penjilat harus
dianggap sebagai musuh yang berpura-pura menjadi sahabat: ia menyetujui
hal-hal yang salah; juga ia tidak menganjurkan hal-hal yang benar; ia
akan memuji dirimu di hadapanmu; ia berbicara jelek tentang dirimu di
hadapan orang-orang lain. O putra kepala keluarga, atas empat dasar
inilah seorang penjilat harus dianggap sebagai musuh yang berpura-pura
menjadi sahabat.

Atas empat dasar, O putra kepala keluarga, seorang kawan pemboros harus
dianggap sebagai musuh yang berpura-pura menjadi sahabat: ia menjadi
kawanmu apabila engkau gemar akan minum-minuman keras; ia menjadi
kawanmu apabila engkau sering herkeliaran di jalan- jalan pada waktu
yang tidak pantas; ia menjadi kawanmu apabila engkau mengejar
tempat-tempat hiburan dan pertunjukan; ia menjadi kawanmu apabila engkau
gemar berjudi. O putra kepala keluarga, atas empat dasar inilah seorang
kawan pemboros harus dianggap sebagai musuh yang berpura-pura menjadi
sahabat. Demikian sabda Sang Bhagava.

Dan setelah Sang Sugata berkata demikian, Sang Guru (sattha) berkata
lebih lanjut :

Sahabat yang selalu mencari apa-apa untuk diambil,

Sahabat yang kata-katanya berlainan dengan perbuatannya

Sahabat yang menjilat, lagi pula hanya berusaha membuat engkau senang

Sahabat yang bergembira dengan cara-cara jahat

Empat ini adalah musuh-musuh

Setelah menyadarinya demikian

Biarlah orang bijaksana menghindari mereka dari jauh,

Seakan mereka jalan yang berbahaya dan menakutkan.

"O putra kepala keluarga, terdapat empat macam sahabat yang harus
dipandang berhati tulus (suhada) : yaitu sahabat penolong (upakaro
mitto); sahabat pada waktu senang dan susah (samanasukha dukkhomitto) ;
sahabat yang memberi nasehat baik (atthakhaya mitto); sahabat yang
bersimpati (anukampako- mitto).

Atas empat dasar, O putra kepala keluarga, sahabat penolong harus
dipandang berhati tulus: ia menjaga dirimu sewaktu engkau lengah; ia
menjaga milikmu sewaktu engkau lengah; ia menjadi pelindung dirimu
sewaktu engkau dalam keadaan ketakutan; ia memberikan bantuan dua kali
daripada apa yang kau perlukan. O putra kepala keluarga, atas empat
dasar inilah sahabat penolong harus dipandang berhati tulus.

Atas empat dasar, O putra kepala keluarga, sahabat pada waktu senang dan
susah harus dipandang berhati tulus: ia menceritakan rahasia-rahasia
dirinya kepadamu; ia menjaga rahasia-rahasia dirimu; ia tidak akan
meninggalkan dirimu sewaktu engkau berada dalam kesulitan; ia bahkan
bersedia mengorbankan hidupnya demi kepentinganmu. O putra kepala
keluarga, atas empat dasar inilah sahabat pada waktu senang dan susah
harus dipandang berhati tulus.

Atas empat dasar, O putra kepala keluarga, sahabat yang menasehatkan apa
yang perlu engkau lakukan harus dipandang berhati tulus: Ia mencegah
engkau berbuat jahat; ia menganjurkan engkau untuk berbuat yang benar;
ia memberitahukan apa yang belum engkau pernah dengar; ia menunjukkan
engkau jalan ke surga. O putra kepala keluarga, atas empat dasar inilah
sahabat yang menasehatkan apa yang perlu engkau lakukan harus dipandang
berhati tulus.

Atas empat dasar, O putra kepala keluarga, sahabat yang bersimpati harus
dipandang berhati tulus : ia tidak bergembira atas kesengsaraanmu; ia
merasa senang atas kesejahteraanmu, ia mencegah orang lain berbicara
jelek tentang dirimu, ia membenarkan orang lain yang memuji dirimu. O
putra kepala keluarga, atas empat dasar inilah sahabat yang bersimpati
harus dipandang berhati tulus. Demikian sabda Sang Bhagava.

Dan setelah Sang Sugata berkata demikian, Sang Guru (sattha) berkata
lebih lanjut :

Sahabat yang menjadi penolong, dan sahabat

Pada hari-hari terang dan gelap; ia yang menunjukkan

Apa yang engkau perlukan, dan ia yang bergetar dengan simpati

Untuk dirimu : empat macam orang ini, seorang bijaksana harus mengenali

Sebagai sahabat-sahabat, dan ia harus membaktikan dirinya kepada mereka

Seperti seorang ibu kepada anaknya sendiri, anak kesayangannya.

Siapa pun yang bajik dan pandai

Bercahaya seperti api yang menyala di bukit

Baginya, mengumpulkan kekayaan adalah seperti lebah berterbangan

Yang mengumpulkan madu tanpa mengganggu siapapun

Kekayaan menumpuk tinggi bagaikan timbunan bukit semut

Bila kekayaan orang berkeluarga yang baik telah terkumpul seperti itu

Dapatlah ia memberi manfaat warganya

Biarlah ia membagi kekayaannya dalam empat bagian

Demikianlah ia mengikat kehidupannya dengan hal-hal yang baik

Satu bagian biarlah dipergunakan dan dinikmati sebagai buah usaha,

Dua bagian untuk melangsungkan usahanya

Bagian keempat biarlah dicadangkan dan ditabung

Sehingga ada persediaan pada saat yang sulit.

O putra kepala keluarga, bagaimana caranya siswa Ariya melindungi enam
arah itu? O putra kepala keluarga, enam arah itu harus dipandang sebagai
berikut : ibu dan ayah seperti arah Timur, para guru seperti arah
Selatan; istri dan anak-anak seperti arah Barat; sahabat-sahabat dan
kawan-kawan seperti arah Utara; pelayan-pelayan dan karyawan-karyawan
seperti arah bawah; guru-guru agama dan brahmana-brahmana seperti arah
atas.

O putra kepala keluarga, dalam lima cara seorang anak harus
memperlakukan orang tuanya seperti arah Timur: dahulu aku dirawat oleh
mereka, sekarang aku akan merawat mereka; aku akan memikul beban
kewajiban-kewajiban mereka; aku akan mempertahankan keturunan dan
tradisi keluarga; aku akan menjadikan diriku pantas menerima warisan;
aku akan melakukan perbuatan-perbuatan baik dan upacara agama setelah
mereka meninggal dunia.

Dalam lima cara ini, O putra kepala keluarga, orang tua yang
diperlakukan demikian oleh seorang anak seperti arah Timur, menunjukkan
kecintaan mereka kepadanya: mereka mencegahnya berbuat jahat; mereka
mendorongnya berbuat baik; mereka melatihnya dalam suatu profesi; mereka
mencarikan pasangan (istri) yang pantas baginya; dan pada waktu yang
tepat, mereka menyerahkan warisan mereka kepadanya.

O putra kepala keluarga, dalam lima cara inilah seorang anak
memperlakukan orang tuanya seperti arah Timur. Dalam lima cara inilah
orang tua menunjukkan kecintaan mereka kepadanya. Demikianlah arah timur
ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya.

O putra kepala keluarga, dalam lima cara siswa-siswa harus memperlakukan
guru-guru mereka seperti arah Selatan: dengan bangkit (dari tempat duduk
untuk memberi hormat); dengan melayani mereka; dengan bersemangat untuk
belajar; dengan memberikan jasa jasa kepada mereka; dengan memberikan
perhatian sewaktu menerima ajaran dari mereka.

Dalam lima cara ini, O putra kepala keluarga, guru-guru yang
diperlakukan demikian oleh siswa-siswa mereka seperti arah Selatan,
mencintai siswa-siswa mereka: mereka melatihnya sedemikian rupa sehingga
ia terlalu baik; mereka membuatnya menguasai apa yang telah diajarkan;
mereka mengajarnya secara menyeluruh dalam berbagai ilmu dan seni;
mereka berbicara baik tentang dirinya di antara sahabat-sahabatnya dan
kawan-kawannya; mereka menjaga keselamatannya di semua tempat.

O putra kepala keluarga, dalam lima cara inilah siswa-siswa
memperlakukan guru-guru mereka seperti arah Selatan. Dalam lima cara
inilah guru-guru mencintai siswa-siswa mereka. Demikianlah arah Selatan
ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya.

O putra kepala keluarga, dalam lima cara seorang istri harus
diperlakukan oleh suaminya seperti arah Barat: dengan menghormati;
dengan bersikap ramah-tamah; dengan kesetiaan; dengan menyerahkan
kekuasaan rumah tangga kepadanya; dengan memberi barang-barang perhiasan
kepadanya.

Dalam lima cara ini, O putra kepala keluarga, seorang istri yang
diperlakukan demikian oleh suaminya seperti arah Barat, mencintainya:
menjalankan kewajiban-kewajiban nya dengan baik; bersikap ramah-tamah
terhadap sanak-keluarga kedua belah pihak; dengan kesetiaan; dengan
menjaga barang-barang yang diberikan suaminya; pandai dan rajin dalam
melaksanakan segala tanggung jawabnya.

O putra kepala keluarga, dalam lima cara inilah seorang suanti
memperlakukan istrinya seperti arah Barat. Dalam lima cara ini seorang
istri mencintai suaminya. Demikianlah arah barat ini dilindungi,
diselamatkan dan diamankan olehnya.

O putra kepala keluarga, dalam lima cara seorang warga keluarga
memperlakukan sahabat-sahabat dan kawan-kawannya seperti arah Utara:
dengan bermurah hati; berlaku ramah tamah; memberikan bantuan; dengan
memperlakukan mereka seperti ia memperlakukan dirinya sendiri; dengan
berbuat sebaik ucapannya.

Dalam lima cara ini, O putra kepala keluarga, sahabat-sahabat dan
kawan-kawan yang diperlakukan demikian oleh seorang warga keluarga
seperti arah Utara, mencintainya: mereka melindunginya sewaktu ia
lengah; mereka melindungi harta miliknya sewaktu ia lengah; mereka
menjadi pelindung sewaktu ia berada dalam bahaya; mereka tidak akan
meninggalkannya sewaktu ia sedang dalam kesulitan; mereka menghormati
keluarganya.

O putra kepala keluarga, dalam lima cara inilah seorang warga keluarga
memperlakukan sahabat-sahabat dan kawan-kawannya seperti arah Utara.
Dalam lima cara inilah sahabat sahabat dan kawan-kawan mencintainya.
Demikianlah arah utara ini dilindungi, diselamatkan den diamankan
olehnya.

O putra kepala keluarga, dalam lima cara seorang majikan memperlakukan
pelayan-pelayan dan karyawan-karyawanny a seperti arah bawah : dengan
memberikan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan mereka; dengan
memberikan mereka makanan dan upah; dengan merawat mereka sewaktu mereka
sakit; dengan membagi barang-barang kebutuhan hidupnya; dengan
memberikan cuti pada waktu-waktu tertentu.

Dalam lima cara ini, O putra kepala keluarga, pelayan-pelayan dan
karyawan-karyawan yang diperlakukan demikian oleh seorang majikan
seperti arah bawah, akan mencintainya : mereka bangun lebih pagi
daripadanya; mereka merebahkan diri untuk beristirahat setelahnya;
mereka merasa puas dengan apa yang diberikan kepada mereka; mereka
melakukan kewajiban-kewajiban mereka dengan baik; di manapun mereka
berada mereka akan memuji majikannya, memuji keharuman namanya.

O putra kepala keluarga, dalam lima cara inilah seorang majikan
memperlakukan pelayan-pelayan dan karyawan-karyawanny a seperti arah
bawah. Dalam lima cara inilah pelayan-pelayan dan karyawan-karyawan
mencintainya. Demikianlah arah bawah ini dilindungi, diselamatkan dan
diamankan olehnya.

O putra kepala keluarga, dalam lima cara seorang warga keluarga harus
memperlakukan para pertapa dan brahmana seperti arah atas : dengan cinta
kasih dalam perbuatan; dengan cinta kasih dalam perkataan; dengan cinta
kasih dalam pikiran; membuka pintu rumah bagi mereka (mempersilahkan
mereka); menunjang kebutuhan hidup mereka pada waktu-waktu tertentu.

Dalam enam cara ini, O putra kepala keluarga, para pertapa dan brahmana
yang diperlakukan demikian oleh seorang warga keluarga seperti arah
atas, akan menunjukkan kecintaan mereka : mereka mencegah ia berbuat
jahat; mereka menganjurkan ia berbuat baik; mereka mencintainya dengan
pikiran penuh kasih sayang; mereka mengajarkan apa yang belum pernah ia
dengar; mereka membenarkan dan memurnikan apa yang pernah ia dengar;
mereka menunjukkan ia jalan ke surga.

O putra kepala keluarga, dalam lima cara inilah seorang warga keluarga
memperlakukan para pertapa dan brahmana seperti arah atas. Dalam enam
cara inilah para pertapa dan brahmana menunjukkan kecintaan mereka
kepadanya. Demikianlah arah atas ini dilindungi, diselamatkan dan
diamankan olehnya.

Demikian sabda Sang Bhagava.

Dan setelah Sang Sugata berkata demikian, Sang Guru (sattha) berkata
lebih lanjut :

Ibu dan ayah adalah arah timur,

Dan guru-guru adalah arah selatan

Istri den anak-anak adalah arah barat,

Dan sahabat-sahabat serta sanak keluarga adalah arah utara;

Para pelayan dan karyawan adalah arah bawah

Dan arah atas adalah para pertapa dan brahmana

Semua arah ini harus disembah oleh orang yang

Pantas menjabat sebagai kepala keluarga dalam warganya.

Ia yang bijaksana, terlatih dalam cara-cara bajik

Lemah lembut dan pandai dalam pemujaan ini,

Rendah hati dan patuh, maka ia akan memperoleh kehormatan.

Bangun pagi-pagi, musuh pada kemalasan,

Tak goyah dalam kemalangan-kemalang an, kehidupannya

Tanpa cacat, bijaksana, maka ia akan memperoleh kehormatan

Bila ia telah mendapatkan cara-cara dan membuat sahabat-sahabat

Menyambut dengan kata-kata yang ramah dan hati yang tulus

Dan ia dapat memberi petunjuk dan nasehat yang bijaksana

Dan membimbing sahabat-sahabatnya, maka ia akan memperoleh kehormatan.

Tangan pemberi, ucapan ramah tamah

Kehidupan penuh pengabdian, tak membedakan diri sendiri

Dengan orang lain, seperti diminta keadaan :

Inilah yang membuat dunia berputar

Seperti poros memberikan jasa pada majunya kereta

Dan bila hal-hal demikian tidak ada, tiada seorang ibu akan menerima

Penghormatan dan penghargaan yang seharusnya diberikan oleh anak-anaknya

Juga sang ayah yang seharusnya memperoleh hal-hal ini dari anak-anaknya

Dan karena para bijaksana dengan tepat memuji akan hal-hal ini

Mereka memperoleh keluhuran dan pujian manusia.

Setelah Beliau selesai berkata demikian, Sigala, putra kepala keluarga
itu, berkata kepada Sang Bhagava : "Sungguh mengagumkan, Bhante! Sungguh
mengagumkan, Bhante! Sama halnya seperti seseorang menegakkan kembali
apa yang telah roboh, memperlihatkan apa yang tersembunyi, menunjukkan
jalan benar kepada yang tersesat, atau memberikan cahaya dalam
kegelapan: agar mereka yang mempunyai mata dapat melihat benda-benda di
sekitarnya. Demikian pula, dengan berbagai macam cara Dhamma telah
dibabarkan oleh Sang Bhagava kepadaku. Dan sekarang, Bhante, aku
menyatakan berlindung kepada Sang Bhagava, Dhamma serta Sangha. Semoga
Sang Bhagava berkenan menerima aku sebagai seorang upasaka, yang sejak
hari ini sampai selama-lamanya telah menyatakan berlindung kepada
Buddha, Dhamma serta Sangha.

Percakapan dengan seorang Kakek Tua

February 7th, 2007 by metta-me

Percakapan dengan seorang kakek tua

Oleh : Lama Gungtang Konchog Dronme

Sujud kepada Hyang Buddha

Yang telah melenyapkan benih-benih Samsara

Yang telah terbebas dari penderitaan

Dari kelahiran, sakit, usia tua dan kematian

Semoga ini bisa menginspirasi kami untuk memutuskan

Rantai pengembaraan di alam-alam samsara

Suatu ketika ada seorang umat awam yang lanjut usia

Bertemu pemuda yang bangga akan kemudaan dan kekuatannya

Dan demikian percakapan ini terjadi diantara mereka

"Hai pak tua, mengapa kau bertingkah,

Terlihat dan bicara dengan cara yang tidak pernah kulihat sebelumnya

Apakah gerangan yang menjangkitimu? "

Terhadapnya kakek tua tersebut menjawab,

"Wahai anak muda, yang melambung penuh kesombongan

Yang masih memiliki tubuh yang sehat dan bugar

Dengarkan nasihatku, bertahun-tahun silam

Aku bahkan jauh lebih sehat dan bugar dari dirimu

Dalam berlari aku bagaikan seekor kuda

Dan saat aku ingin mendapatkan buruan

Dengan tangan kosong, yak liar dari Utara dapat kutangkap

Langkahku sangatlah ringan, bagai burung di udara

Dan wajahku sangat tampan, laksana seorang dewa

Aku mengenakan busana-busana yang indah

Menghiasi diriku dengan perhiasan-perhiasan

Makan makanan yang lezat-lezat

Dan sangat pandai berkuda dan berpetualang

Tidak ada permainan yang tidak kulakukan

Tiada kesenangan yang tidak kuketahui

Bahkan tidak terpikirkan olehku akan kematian

Atau akan datangnya usia tua ini

Hiruk pikuk sahabat-sahabat dan handai taulan yang menemaniku

Senantiasa mengalihkan perhatianku

Dan membuatku melupakan segalanya

Namun diam-diam kini usia tua

Perlahan merayapi diriku

Awalnya tiada aku memperhatikan

Dan ketika aku tersadar, semua sudah terlambat

Sekarang ketika aku melihat ke cermin

Aku tidak percaya dengan yang kulihat

Ketika seseorang menerima inisiasi Air

Pertama-tama menyentuh kepalanya

Dan kemudian turun melalui tubuhnya

Kematian datang dengan cara yang sama:

Mahkota kepalanya pertama-tama jadi memutih

Dan kemudian tanda-tanda lainnya menyusul

Rambutku kini menjadi putih seperti cangkang kerang

Bukanlah atas kehendakku untuk mewarnainya demikian

Melainkan Sang Raja Kematian telah meludahiku

Dan ludahnya kini membeku menutupi kepalaku,

Banyaknya garis dan keriput di wajahku

Bukanlah lipatan gemuk dari seseorang bayi

Melainkan jumlah waktu yang telah dilalui

Yang digoreskan oleh Sang Waktu,

Kejapan mata yang sering kulakukan

Bukanlah disebabkan oleh asap yang masuk ke mataku

Melainkan akibat kekuatan penglihatanku kini berkurang

Dan aku harus mengejap agar bisa melihat dengan jelas

Ketika aku mencondongkan tubuhku seperti ini

Dan menyendengkan telingaku untuk mendengar

Bukanlah bertujuan agar kau membisikkan kepadaku

Semacam pesan rahasia atau sejenisnya

Melainkan akibat semua suara seolah meredup

Dan aku harus melakukannya agar bisa mendengar,

Cairan yang menetes tanpa terkendali dari hidungku

Bukanlah untaian mutiara pada wajahku

Melainkan merupakan tanda mencairnya es masa mudaku

Yang meleleh akibat terik mentari usia tua,

Gigi-gigiku yang mulai bertanggalan

Bukanlah akibat akan tumbuhnya gigi-gigi baru

Melainkan akibat makanan dari kehidupan ini telah habis ditelan

Maka alat pengunyahnya disingkirkan oleh Raja Kematian,

Air liurku terus keluar menyebabkan aku harus meludah

Bukan karena aku ingin membersihkan tanah dengannya

Melainkan karena semua yang tadinya kunikmati

Sekarang malah membuatku muak

Dan air liurku menjadi berjatuhan karenanya

Kalimat-kalimatku yang kurang jelas

Bukanlah dialek bahasa dari negeri asing

Melainkan akibat banyaknya pembicaraan sia-sia

Yang telah kulakukan tanpa akhir sedari muda

Maka kini lidahku menjadi lelah dan usang

Wajah buruk seperti kera yang kau lihat ini

Bukanlah sebuah topeng yang sedang kukenakan

Melainkan akibat topeng kemudaan yang kupinjam dulu

Telah diambil lagi dan kini hanya tulang-tulang

Dari kematian, terbungkus kulit yang tersisa,

Gelengan-gelengan kepalaku ini

Bukanlah tanda penolakanku

Melainkan Raja Kematian telah memukulku dengan gadanya

Dan sejak itu, kepalaku menjadi tidak stabil

Cara berjalanku kini yang kau saksikan

Dengan pandangan yang terpaku pada jalanan

Bukanlah untuk mencari jarum yang jatuh

Melainkan permata kemudaanku yang telah jatuh

Kini aku berjalan dengan linglung

Bahkan namaku sendiri kadang terlupakan

Caraku untuk berdiri dengan menggunakan seluruh tangan-kakiku

Bukanlah maksudku untuk meniru hewan berkaki empat

Melainkan akibat kaki-kakiku sendiri

Sudah tidak lagi kuat menunjangku

Maka kini aku harus mengandalkan

Semua tangan dan kakiku untuk bergerak

Caraku menjatuhkan badan saat akan duduk

Bukanlah suatu sikap yang tanpa sopan santun

Melainkan benang-benang kebahagiaanku sudah putus

Dan kawat-kawat kemudaanku sudah dipotong

Maka kini aku tidak bisa lagi bergerak dengan lincah

Ketika sedang berjalan perlahan-lahan

Bukanlah untuk memperlihatkan kalau aku seorang pejabat tinggi

Melainkan beban usia tua yang begitu berat

Telah jatuh kepadaku, maka kini aku tertatih-tatih

Tangan-tanganku yang kini gemetaran

Bukan karena aku sedang tegang menyambut sesuatu

Melainkan karena Kematian sedang mengawasiku, menunggu

Untuk merampas perhiasan kehidupan dari tanganku

Karenanya aku gemetaran ketakutan

Makanan dan minumanku yang sedikit

Bukanlah karena aku pelit atau kikir

Melainkan kekuatan pencernaanku kini sudah berkurang

Dan aku takut akan kematian akibat makan berlebih

Pakaian tipis yang kini kukenakan

Bukanlah dimaksudkan untuk pesta kostum

Melainkan kekuatan tubuhku sudah sangat berkurang

Bahkan pakaian saja menjadi beban bagiku

Nafasku yang menjadi demikian berat

Bukanlah karena aku sedang menolong orang

Dengan meniupkan mantra penyembuhan

Melainkan merupakan pertanda bahwa dengan segera

Nafas kehidupanku akan menguap ke angkasa

Cara-cara bergerakku yang terbata-bata

Bukanlah karena aku sedang mengendalikan tubuhku

Melainkan karena Dewa Kematian telah meringkusku

Dan kini aku tidak lagi bisa bergerak sekehendakku

Aku menjadi pikun, mudah melupakan banyak hal

Bukanlah karena aku mudah melupakan orang lain

Melainkan karena otakku sendiri kini menjadi usang

Ingatan dan kepandaianku pun kini turut meredup

Tak perlu mengejek atau menghinaku kini

Karena semua akan mengalami usia tua

Dalam beberapa tahun ke depan

Para utusan kematian akan menghampirimu

Kata-kataku kini belumlah bisa meyakinkan dirimu

Namun dengan segera, keadaanku kini akan kau alami

Apalagi kini usia manusia tidaklah panjang

Dan kau sama sekali tidak memiliki jaminan

Untuk bisa mengalami tahun-tahun yang sama banyaknya dengan diriku

Bahkan bila kau dapat melampaui usiaku pun

Tidak ada jaminan kalau kau akan masih bisa

Memiliki kemampuan untuk bergerak, bicara maupun berpikir

Seperti yang dilakukan kakek lemah ini dihadapanmu

Si pemuda menjadi sangat terkejut dan berseru merana :

Oh betapa menyedihkan menjadi sepertimu

Disingkirkan orang-orang dan diperlakukan bagai anjing

Tubuhmu menjadi demikian buruk dan rusak

Lebih baik kematian menjemputku sekarang

Daripada tetap hidup dan menjadi sepertimu

Si kakek tua tersenyum dan berkata :

Kau berharap agar bisa muda selamanya

Dan tidak berharap akan menjadi tua

Bahkan kau lebih berharap mati daripada menjadi tua

Namun ketika kematian menghampirimu

Kau akan menyadari bahwa sangatlah tidak mudah

Untuk bisa menghadapi kematian dengan penuh percaya diri dan kepasrahan

Bila seseorang tidak pernah menyakiti yang lain

Selalu menjaga dan melaksanakan sila-silanya

Dan mengikuti ketiga praktek

Dari belajar, konsentrasi dan meditasi

Mungkin akan lebih mudah untuk mati dengan bahagia

Namun pikiranku bahkan sama sekali tidak pernah

Merenungkan akan manfaat-manfaat spiritual

Meski tubuhku kian bertambah rapuh

Maka sekarang aku menghargai sepenuhnya hari-hari terakhirku

Sebagai kesempatan untuk mempraktekkan Dharma

Dan berharap tidak mati dengan segera

Setelah kakek tua tersebut berbicara demikian

Pikiran si pemuda dipenuhi perubahan

"Ya, benar sekali perkataanmu orang tua

Apa yang telah kusaksikan dengan mataku sendiri

Dan apa yang telah kudengar dengan telingaku

Telah meyakinkan diriku atas apa yang kau katakan

Petuahmu telah menggerakkan hatiku

Penderitaan usia tua demikian hebat

Kau sudah tua dan lebih memiliki pengalaman

Jadi katakanlah, apakah ada jalan keluar

Yang bisa untuk mengatasi penderitaan ini?"

Si kakek tua kembali tersenyum

"Ya, memang ada jalan keluar yang demikian

Dan tidaklah sulit untuk dijalani

Semua yang terlahir akan mengalami kematian

Bahkan tidak banyak yang bisa hidup sampai hari tua

Untuk hidup terus dan tidak mati

Akan membutuhkan nektar keabadian

Yang pasti akan mustahil dicari"

Semua makhluk hebat yang pernah ada telah mati :

Para Buddha, Bodhisattva, Siddha dan juga raja-raja

Orang-orang, yang baik, juga yang jahat

Semua akan menghadapi kematian suatu hari nanti

Lalu apa bedanya dengan dirimu wahai anak muda?

Namun demikian, apabila seseorang mau mempraktekkan Dharma

Pikiran akan dipenuhi kebahagiaan, tidak peduli usianya

Maka ketika kematian datang, seseorang akan seperti anak kecil

Yang dengan bahagia pulang ke rumahnya

Bahkan Hyang Buddha pun tidak membabarkan

Jalan lain selain ini

Demikian ini adalah nasihatku yang terdalam

Dari lubuk hatiku dan bukan hanya dari mulutku :

Nasibmu berada di tanganmu sendiri

Dan selanjutnya kau harus mengikuti kata hatimu

Terhadap ini si pemuda menjawab :

"Demikian benar adanya nasihatmu, tetapi

Sebelum mengabdikan diriku kepada Ajaran

Ade beberapa urusan yang harus kuselesaikan

Seperti kebutuhan keluargaku, juga rumah dan hartaku

Bila semua ini sudah terselesaikan

Aku akan segera kembali dan berbincang denganmu lagi"

Si kakek tua menggerutu :

"Pemikiranmu sama sekali tidak beralasan

Sebelumnya aku pun juga hidup dengan pikiran seperti itu

Selalu berkata akan melatih diri dengan segera

Urusan-urusan itu seperti janggut

Tidak peduli berapa seringnya kau bercukur

Malah akan tumbuh semakin lebat

Bagiku, tahun-tahun telah berlalu demikian

Namun urusan tak pernah berakhir

Mengulur-ulur waktu merupakan tindakan menipu diri sendiri

"Kalau maksudmu adalah untuk mengulur-ulur waktu selamanya

Kau tidak akan punya harapan untuk pencapaian apapun

Dan percakapan kita ini sungguh hanya sia-sia belaka

Sebaiknya sekarang kau pulang saja ke rumahmu,

Lakukan yang kau mau!

Dan biarkan aku, orang tua ini,

Bisa bermeditasi dengan tenang

Si pemuda menjadi terkejut dan berkata :

"Pak tua, janganlah begitu keras kepadaku

Sungguh tidak mungkin bagiku untuk dengan mudah

Meninggalkan semua yang telah kuupayakan"

Menanggapinya, si kakek tua menjawab

"Memang benar, sekarang kau bisa berkata demikian

Namun Sang Raja Kematian yang berdiam di selatan

Tidak akan peduli dengan semua rencana yang kau buat

Sebaiknya kau bicara saja dengannya dan merayunya nanti

Bila dia sudah datang untuk menjemputmu

Dia tidak akan bertanya apakah kau sudah tua atau muda

Berkedudukan atau tidak, kaya atau miskin, siap atau tidak"

Semua dipaksa untuk pergi sendiri

Meninggalkan semua urusan yang tidak terselesaikan

Benang kehidupan dengan segera terpotong

Seperti tali yang putus akibat bebang yang berat

Tidak ada waktu untuk merencanakan papun

Dan untuk mati tanpa praktek spiritual

Adalah kematian yang sungguh menyedihkan

Saat demikian baru semua pemikiran seseorang akan berubah

Tertuju pada betapa pentingnya praktek meski sebentar saja

Bukankah jauh lebih berguna

Untuk berubah pikiran sedari sekarang

Sementara waktu untuk melatih diri masih ada

Namun nasihat yang berguna sangatlah jarang

Terlebih lagi yang menjalankannya, jauh lebih jarang

Saat ini si pemuda menjadi sangat tersentuh

Dengan bersujud kepada si kakek tua, dia berkata

"Bukannya seorang guru besar yang bertahta indah

Juga bukan seorang sarjana geshe ataupun yogi

Yang pernah memberi ajaran yang demikian dalam kepadaku

"Orang tua, aku sungguh sahabat spiritual sejati

Dan aku akan mengikuti nasihatmu

Kumohon berilah petunjuk kepadaku lagi

Si kakek tua menjawab :

"Aku sudah lama hidup di bumi ini

Dan juga telah banyak menyaksikan

Tiada yang lebih sulit dimengerti

Daripada dasar-dasar jalan spiritual

Jalan yang menghasilkan makhluk-makhluk agung

Pembebasan dan Pencerahan yang tertinggi"

Tidaklah mudah untuk mencapai pengalaman

Dari kebenaran yang diajarkan oleh para Buddha

Dan terlebih sulit lagi untuk melakukannya di usia tua

Maka masa muda merupakan waktu untuk belajar

Dan membiasakan diri dengan ajaran-ajaran

Maka ketika seseorang menjadi tua seiring waktu

Akan menjadi lebih mudah untuk mempraktekkannya

Bila seseorang benar-benar mengerti

Bahkan sebagian kecil dari ajaran-ajaran

Semua perbuatannya akan membawa manfaat

Tidak perlu untuk menjadi seorang yang pandai

Apabila pengalaman spiritual telah berkembang

Semua tindakan dari tubuh, ucapan dan pikiran

Akan berdasar pada jalan spiritual

Akar dari praktek Dharma adalah

Untuk bersandar pada seorang guru spiritual

Dan untuk menjalankan ajaran-ajarannya

Seperti seseorang yang menjaga matanya sendiri

Berpalinglah dari kegiatan duniawi

Dengan melakukan belajar, perenungan dan meditasi

Terhadap semua inti ajaran yang bermanfaat

Dari Hyang Buddha dan juga Lama Tsongkhapa

Dengan menempatkan diri demikian

Sementara mempraktekkan sebagai tumpuan

Metoda-metoda mengumpulkan pahala

Dan membersihkan pikiran dari karma buruk

Penerangan akan muncul di tanganmu sendiri

Maka puteraku, kau akan merealisasikan kebahagiaan

Dan semua harapanmu akan terpenuhi

Demikian percakapan ini terjadi

Dan keduanya menjadi sahabat spiritual

Mereka tinggal bersama di dalam penyunyian

Bebas dari delapan faktor duniawi

Sepenuhnya mengabdi dalam praktek meditasi

Demikian selesai sudah kisahku tentang seorang kakek tua

Dan seorang pemuda, yang bertemu suatu ketika

Dan percakapan yang terjadi di antara mereka

Kutulis ini demi memberikan inspirasi kepada

Diriku sendiri dan orang lain dalam mempraktekkan Dharma

Aku si penulis, Konchog Tenpai Dronme

Tidaklah berpengalaman dalam hidup

Namun setelah berpikir demi kebaikan generasi yang akan datang

Percakapan ini telah kutuliskan

Semoga manfaat akan bersemi di dalam hati umat manusia

Demikian cerita tentang ketidak-kekalan ini

Bukanlah hasil karanganku belaka

Melainkan memiliki dasar inspirasi yang kuat

Dari "Empat Ratus Stanza" (catuhsataka- sastra)

Oleh Guru Aryadeva Mangalam! (taken from Samaggiphala(jansen@makingroup.com)

artikel yg ini menurutku bagus banget, n membuatku menyadari ttg masa tua n masa depan yg blum pasti..(tapi tua n meninggal pasti)….Hal ini juga yg membuatku byk berpikir ttg kehidupan…Apa yg dapat kulakukan untuk membuat hidup ini lebih berarti, tak sekedar melewati n menjalani hidup….n juga ga nyia2in masa muda ini dg bersenang2 tok!, tp juga harus dijaga dengan baik…

apakah hal ini juga pernah terbersit dalam pikiran temen2?

Goodbye friendship

August 15th, 2006 by metta-me

GOOD BYE FRIENDSHIP

Ketika sedang ngeliat blogsnya temenku, olivia and her rainbow (http://oliv-v.blogspot.com/), tiba2 aku pengen mengomentari ttg hal ini (soalnya yg di mailinglist udh sepi >.<)

Setelah kubaca2, menurutku yg ia tuliskan di artikelnya itu, banyak benernya, kenapa?? karena aku juga mengalami hal itu sendiri. Semakin lama, persahabatan itu seolah menjadi hambar, keinginan untuk mencari sahabat juga menjadi tawar. Penyebabnya, kata temenku hanyalah hal yg simple, mereka tidak ada yg mau saling menyempatkan diri untuk menjalin hubungan lagi. Tidak mau menjaga jalinan persahabatan yg baru/sudah terbentuk. kita jarang sekali bisa contact sm mereka, banyak sekali alasan yg diberikan jika kita protes. Alasan paling klise yang dikemukakan adalah SIBUK ! TAK SEMPAT ! Yang punya pekerjaan alasannya pekerjaan banyak, yang punya pasangan alasannya tak enak dengan pasangannya, yang punya keluarga alasannya suaminya lah, istrinyalah, atau anaknyalah dll. Lupa bahwa dulu, sesibuk-sibuknya kita, selalu ada waktu yang bisa disempatkan untuk sekedar menyapa dan say hello dengan orang lain. Jaman sekolah, biarpun tugas menumpuk, PR menumpuk, kita semua masih mau menyempatkan diri untuk sesekali keluar, tak sempat keluar, just say hello with the phone (apalagi HP sekarang sangat praktis), tak bisa telepon, karena takut mahal, bisa sms. Tak bisa sms, bisa pakai email…

Tapi kenyataannya, selalu ada alasan ^^" alasan yang awalnya terdengar sederhana, dan demikian simple. Namun akhirnya membuat hubungan antara satu dengan lainnya, bahkan untuk menjadi ‘teman biasa’ pun terasa lebih asing, daripada orang yang baru ditemui. Seorang teman baik berkata tak tau harus menulis apa di sms, maka iapun memilih untuk tidak mengirimkan sms sama sekali…teman lain beralasan ia tinggal di kota kecil, tak ada jalur internet, internet lambat…guruku berkata bahwa ia masih mengunakan surat untuk menjalin komunikasi dan persahabatan. Sedikit banyak aku setuju dengan hal ini, kalau telepon dijadikan alasan karena biayanya yang mahal, sepucuk surat bisa jadi pengganti, payahnya….yang lain justru menggunakan alasan tak suka menulis surat, tak tahu harus menulis apa.

SINGKAT KATA : SELALU ADA ALASAN UNTUK TAK MENJALIN PERSAHABATAN LAGI :(

Alasan kedua, semakin dewasa, seringkali kepercayaan terhadap orang lain juga memudar dan memupus. Karenanya enggan menjalin persahabatan dengan orang-orang baru, karena takut bahwa orang-orang baru tersebut hanyalah akan menjadi orang yang akan melukai diri kita, yang akan memanfaatkan tali persahabatan yang kita ulurkan padanya. Hal ini dikarenakan ‘kerasnya’ kenyataan hidup yang dihadapi orang-orang dewasa, mulai saling bersaing mencari pekerjaan dan penghidupan yang layak, perasaan dikhianati oleh orang yang tadinya kita percaya dan kita cintai, merasakan susahnya dan sulitnya mencari uang, susahnya mencari teman untuk curhat pada saat kita membutuhkan, dan sebaliknya kalo yg tadinya kita sebut ‘teman’ tersebut membutuhkan kita, seenaknya saja mereka datang, dan seolah menggunakan kalimat ‘teman’ ini sebagai senjata ajaib bahwa kita berkewajiban menolongnya, berkewajiban memahami keadaan dirinya, berkewajiban mendengarkannya, dll.

SINGKAT KATA : MENCARI TEMAN BARU ITU SUSAH !

Alasan ketiga yang paling sederhana : MEMANG CARI TEMAN SEJATI itu susah kog hohoho…

SINGKAT KATA : BUANGLAH TEMAN LAMAMU, DAN HINDARI TEMAN BARU ! dan good bye friendship forever dimakan oleh waktu yang terus berjalan ? (hope not…^^" )

NB : Sometime, menjaga persahabatan juga dapat begitu melelahkan tanpa diimbangin pihak teman yang lain ! Well, Maybe sometimes we must forget this friendship at all ? (this article is taken from olivia’s blog )

To Ced Olivia, maaf, baru sadar klo aku lupa masukkin nara sumber (Ce Olive sendiri)…maaf beribu maaf ce

Kebahagiaan sebagai pilihan

August 14th, 2006 by metta-me

Kebahagiaan sebagai pilihan

Pada suatu jaman di Tiongkok, hiduplah seorang jenderal besar yang selalu menang dalam setiap pertempuran. Karena itulah, ia dijuluki "sang Jenderal Penakluk" oleh rakyat. Suatu ketika, dalam sebuah pertempuran, ia dan pasukannya terdesak oleh pasukan lawan yang berkali lipat lebih banyak.

Mereka melarikan diri, namun terangsak sampai ke pinggir jurang. Pada saat itu para prajurit sang jenderal menjadi putus asa dan ingin menyerah pada musuh saja. sang Jenderal segera mengambil inisiatif, "Wahai seluruh pasukan, menang-kalah sudah ditakdirkan oleh dewa-dewa. Kita akan menanyakan kepada para dewa, apakah hari ini kita harus kalah atau akan menang. Saya akan melakukan tos dengan keping keberuntungan ini! Jika sisi gambar yang muncul, kita akan menang. Jika sisi angka yang muncul, kita akan kalah! Biarlah dewa-dewa yang menentukan!" Seru Sang Jenderal sambil melemparkan kepingnya untuk tos.

Ternyata sisi gambar yang muncul. Keadaan itu disambut histeris oleh pasukan sang Jenderal, "Hahaha….Dewa-dewa di pihak kita! Kita sudah pasti menang!!!" Dengan semangat membara, bagaikan kesetanan mereka berbalik menggempur balik pasukan lawan. Akhirnya mereka benar-benar berhasil menunggang-langgangkan lawan yang berlipat-lipat banyaknya.

Pada senja pasca-kemenangan, seorang prajurit berkata kepada Sang Jenderal, "Kemenangan kita telah ditentukan dari langit-langit, dewa-dewa begitu baik terhadap kita."

Sang Jenderal menukas, "Apa iya sih?" sembari melemparkan keping keberuntungannya kepada prajurit itu. Si prajurit memeriksa kedua sisi keping itu, dan dia hanya melongo ketika mendapati bahwa kedua sisinya adalah gambar.

Memang dalam hidup ini ada banyak hal eksternal yang tidak bisa kita ubah; banyak hal yang terjadi tidak sesuai kehendak kita. Namun demikian, pada dasarnya dan pada akhirnya, kita tetap bisa mengubah pikiran atau sisi internal kita sendiri: Untuk menjadi bahagia atau tidak berbahagia. Jika bahagia atau tidak bahagia diidentikkan dengan nasib baik atau buruk, maka sebenarnya nasib kita tidaklah ditentukan oleh siapa-siapa, melainkan oleh diri kita sendiri. Ujung-ujungnya, kebahagiaan adalah sebuah pilihan yang proaktif.

"The most proactive thing we can do is to ‘be happy’," begitu kata Stephen R. Covey dalam buku the 7 Habits-nya

Source: Suara Merdeka Cyber News

Nice Story: True Love and Give more than you get

August 6th, 2006 by metta-me

This story is taken from milis Samaggi-phala

"Namaku Linda dan aku memiliki sebuah kisah cinta yang memberiku sebuah
pelajaran tentangnya. Ini bukanlah sebuah kisah cinta hebat dan
mengagumkan penuh gairah seperti dalam novel-novel roman, walau begitu
menurutku ini adalah kisah yang jauh lebih mengagumkan dari itu semua.

Ini adalah kisah cinta ayahku, Mohammed Huda alhabsyi dan ibuku,
Yasmine Ghauri.

Mereka bertemu di sebuah acara resepsi pernikahan dan kata ayahku
ia jatuh cinta pada pandangan pertama ketika ibuku masuk ke dalam
ruangan dan saat itu ia tahu, inilah wanita yang akan menikah dengannya.

Itu menjadi kenyataan dan kini mereka telah menikah selama 40 tahun dan
memiliki tiga orang anak, aku anak tertua, telah menikah dan memberikan
mereka dua orang cucu.

Mereka bahagia dan selama bertahun-tahun telah menjadi orang tua yang
sangat baik bagi kami, mereka membimbing kami, anak-anaknya dengan penuh cinta kasih dan kebijaksanaan.

Aku teringat suatu hari ketika aku masih berusia belasan tahun. Saat
itu beberapa ibu-ibu tetangga kami mengajak ibuku pergi ke pembukaan pasar murah yang mengobral alat-alat kebutuhan rumah tangga.

Mereka mengatakan saat pembukaan adalah saat terbaik untuk berbelanja barang obral karena
saat itu saat termurah dengan kualitas barang-barang terbaik.

Tapi ibuku menolaknya karena ayahku sebentar lagi pulang dari kantor.
Kata ibuku,"Mama tak akan pernah meninggalkan papa sendirian".

Hal itu yang selalu dicamkan oleh ibuku kepadaku. Apapun yang terjadi,
sebagai seorang wanita aku harus patuh pada suamiku dan selalu menemaninya
dalam keadaan apapun, baik miskin, kaya, sehat maupun sakit. Seorang
wanita harus bisa menjadi teman hidup suaminya. Banyak orang tertawa
mendengar hal itu menurut mereka, itu hanya janji pernikahan, omong kosong
belaka. Tapi aku tak pernah memperdulikan mereka, aku percaya nasihat ibuku.

Sampai suatu hari, bertahun-tahun kemudian, kami mengalami duka,
setelah ulang tahun ibuku yang ke-59, ibuku terjatuh di kamar mandi dan menjadi lumpuh.

Dokter mengatakan kalau saraf tulang belakang ibuku tidak berfungsi lagi, dan dia harus menghabiskan sisa hidupnya di tempat tidur.

Ayahku, seorang pria yang masih sehat di usianya yang lebih tua, tapi ia
tetap merawat ibuku, menyuapinya, bercerita banyak hal padanya,
mengatakan
padanya kalau ia mencintainya. Ayahku tak pernah meninggalkannya,
selama bertahun-tahun, hampir setiap hari ayahku selalu menemaninya, ia masih
suka bercanda-canda dengan ibuku. Ayahku pernah mencatkan kuku tangan
ibuku, dan ketika ibuku bertanya ,

"untuk apa kau lakukan itu? Aku sudah sangat tua dan jelek sekali".

Ayahku menjawab, "aku ingin kau tetap merasa cantik".
Begitulah pekerjaan ayahku sehari-hari, ia merawat ibuku dengan penuh
kelembutan dan kasih sayang, para kenalan yang mengenalnya sangat
hormat dengannya.

Mereka sangat kagum dengan kasih sayang ayahku pada ibuku yang tak pernah pudar.

Suatu hari ibu berkata padaku sambil tersenyum,"…kau tahu, Linda.
Ayahmu tak akan pernah meninggalkan aku…kau tahu kenapa?"
Aku menggeleng, dan ibuku melanjutkan, "karena aku tak pernah
meninggalkannya…"

Itulah kisah cinta ayahku, Mohammed Huda Alhabsyi dan ibuku, Yasmine
Ghauri, mereka memberikan kami anak-anaknya pelajaran tentang tanggung
jawab, kesetiaan, rasa hormat, saling menghargai, kebersamaan, dan
cinta kasih. Bukan dengan kata-kata, tapi mereka memberikan contoh dari
kehidupannya.

kisah di atas bagus sekali…Mengisahkan tentang cinta pada pandangan pertama. Dan kisahnya pun happy ending. Terkadang aku berpikir, apa ada cinta macam ini? aku tidak percaya pada cinta pada cinta pada pandangan pertama, terlebih lagi cinta sejati. Karena cinta itu harus kita pelihara, dan kita jaga, agar cinta itu terus ada di dalam hati kita dan pasangan..

Dan seperti cerita di atas pun, mereka juga tetap menjaga agar cinta mereka tetap ada..Tidak hanya dalam kata-kata, melainkan juga sikap…

Karena banyak orang, berjanji banyak hal-hal yang indah…tetapi sedikit yang melakukannya…Maka, marilah kita belajar untuk memberikan lebih kepada pasangan kita. (dan juga dunia ini)

Belajar untuk mengalahkan rasa takut

August 6th, 2006 by metta-me

Pagi ini, dalam perjalanan menuju tempat kerjaku, aku harus menyeberangi sebuah jalan yang sangat padat kendaraan, dari motor sampai truk tronton yang dapat membuat hati keder alias takut untuk menyeberang… Pada saat itu, ada beberapa orang yang juga akan menyeberang. Tetapi mereka tidak bergerak. Mereka menunggu seseorang yang bersedia untuk menyeberangkan mereka. Dalam hati, aku juga ingin mengunggu seperti mereka. Tapi, kalau tidak ada seseorang dari kami yang mengambil inisiatif, kami pasti tidak akan bisa menyeberang. Maka, aku pun memberanikan diri untuk mengangkat tangan dan berjalan menyeberangi jalan itu.

Orang-orang yang tadi menunggu, mengikutiku menyeberang jalan tersebut. Setibanya diseberang jalan besar itu, aku masih berjalan lagi menuju ke tempat kerjaku. Sambil berjalan tadi, aku teringat peristiwa menyeberang jalan tersebut.

Terkadang manusia tidak berani untuk melakukan sesuatu, msekipun hal yang akan dia lalukan itu, akan membawa hidupnya jauh lebih baik. Mereka merasa takut karena mereka membayangkan hal yang buruk2. Misalnya saja di jalan tadi.

Ada juga orang yang takut untuk masuk ke dalam lingkungan baru (saya pun termasuk salah satunya). Mereka takut, mereka akan menemui hal-hal yang tidak menyenangkan, takut dicuekin, tak dipedulikan, dsb. Tetapi, setelah kita melakukan hal yang kita takutkan sebelumnya, ternyata hal itu tidak semenakutkan yang kita pikirkan. Bahkan mungkin saja hal itu berbeda 100 % dari apa yang kita pikirkan sebelumnya.

So, why don’t we try and see what will happen…At least we have tried our best and tried to conquer our fear, right???

Tak semua hal sesuai keinginanMu

August 6th, 2006 by metta-me

Tak semua sesuai keinginanMu

sesuai dengan judul diatas, tak semua apa yang kita inginkan dapat terwujud, meskipun kita udah berusaha sekuat tenaga n mengerahkan semua upaya….

Seperti kejadian tadi malam yang dialami oleh temen kosku. pada saat itu, waktu sudah menunjukkan pk. 10 malam, dan dia harus menelepon seseorang  pada malam itu juga…Maka berkelilinglah ia mencari flexi yang dapat dia pinjem. Ketika ia datang ke kamar n hendak meminjam dariku, terpaksa kutolak karena emang aku ga punya, Dia juga hendak meminjam milik teman2ku, yg kebetulan pada saat itu tidak ada di kos. Telepon kost tidak memungkinkan untuk digunakan, karena selain agak rusak, telepon itu terletak di dekat tivi yg selalu dinyalakan n nyaring suaranya, blum lagi suara2 kendaraan di jalan dan suara pompa air yang sangat menganggu. Jadi, kembalilah ia ke kamarnya dengan tangan hampa. Aku yang ingin menolong pun, tidak dapat berbuat apa2, karena emang tidak bisa menolong…

Dari situ aku terpikir, terkadang kita tidak dapat mendapatkan apa yang kita inginkan..Saya sendiri, pernah mengalami hal ini. Pada bulan agustus ini, BEC akan mengadakan baksos ke Madura. Saya dan temen2 sangat bersemangat untuk bergabung dan membantu kegiatan ini. Dan kami yakin, kami dapat mengikuti acara ini, karena biasanya kegiatan ini dilakukan pada hari minggu. Tetapi, betapa kecewanya saya, ketika tadi pagi saya menelepon untuk mendapatkan informasi lebih lanjut. Ternyata baksos itu akan diadakan pada hari senin. Udah pasti saya dan teman2 semua tidak dapat ikut, karena kami harus bekerja.

Harapan tinggal harapan, sangat disayangkan hal tersebut tidak dapat terwujud. Seperti kata2 bijak, manusia boleh berharap, tetapi Tuhan juga yang menentukan, klo dalam agama Buddha, tergantung karma…. Klo dipikir2, benar juga…kita memang tidak boleh pasrah. Harus terus berjuang, tetapi kita tidak boleh berharap terlalu banyak..

Karena jika sesuatu itu tidak terjadi seperti yang kita harapkan, maka kita akan terpuruk dan kehilangan harapan. Kehilangan semangat juang, n akhirnya menyerah…

Keep on trying and never give up!